Le Centre Culturel Français de Yogyakarta / Lembaga Indonesia Prancis a pour missions:
L'enseignement de la langue française
La promotion de la culture française dans le respect de la diversité culturelle
La participation au débat intellectuel d'idées
En partenariat avec des structures et organisations locales dans les domaines universitaires, culturels, artistiques, sociaux, scientifiques, technologiques...
Le Centre Culturel Français / Lembaga Indonesia Prancis est un établissement sous la tutelle du Ministère français des Affaires Etrangères et de l'Ambassade de France en Indonésie.
CCF / LIP Jogjakarta hadir dengan misi :
Pengajaran bahasa Prancis
Pengenalan budaya Prancis dengan konsep keragaman budaya
Berperan aktif dalam diskusi intelektual
Menjalin kerja sama dengan para pelaku dan organisasi lokal di bidang perguruan tinggi, budaya, seni, sosial, ilmiah, teknologi...
CCF/Lembaga Indonesia Prancis adalah lembaga yang berada di bawah naungan Kementerian Luar Negeri Prancis dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.
Lembaga Indonesia-Prancis / Centre Culturel Français (LIP)
Pembukaan pameran « Outside-in » oleh Mie Cornoedus Senin 23 November 2009, jam 19.30 di Ruang Mes 56 (Jalan Nagan Lor 17) Pameran akan berlangsung sampai tanggal 10 Desember 2009
Pembukaan pameran “Yogyakarta yang terlupakan” ** Selasa 24 November 2009, jam 19.00 di LIP galerie (Jalan Sagan 3) Pameran akan berlangsung sampai tanggal 26 November 2009
**Pembukaan pameran « Yogyakarta yang terlupakan » (menampilkan foto-foto karya 10 fotografer yang mengikuti workshop Ferrante Ferranti) akan menutup seminar « Menggagas Wisata Alternatif Yogya » yang diselenggarakan oleh LIP, Yogyakarta Tourism Board dan UGM (Center for Tourism Studies) pada tanggal 24 November 2009 (dari jam 14.00). Bintang tamu: Ibu Laretna Adishakti, Chairperson, Jogja Heritage Society
Pembukaan Pameran “Wajah-wajah India” Minggu 29 November 2009, jam 19.00 di Sangam House (Jalan Kaliurang km 5,8, Pandega Siwi 14) Pameran akan berlangsung sampai tanggal 20 Desember 2009
Sebuah workshop, sebuah diskusi, empat pameran akan menjadi bingkai Bulan Foto 2009 ini dengan tamu kehormatan, Ferrante Ferranti, fotografer-pengembara, yang dengan pamerannya "Batu-batu yang tetap hidup" akan memberi pencerahan pada kita tentang cara fotografi memberi nafas baru pada peninggalan-peninggalan bersejarah. Bulan Foto 2009 juga akan menjadi ajang penemuan kembali tempat-tempat yang terlupakan di Yogyakarta (bioskop tua, sekolah-sekolah tua, tempat umum yang ditinggalkan, dll) dan wajah perempuan-perempuan yang bekerja dalam bidang sosial budaya di Yogyakarta (bersama Mie Cornoedus)… Antara potret-potret dan peninggalan-peninggalan bersejarah Yogyakarta yang hilang.
Semua film Europe on screen ditayangkan gratis di Auditorium LIP dengan bahasa Inggris
Jumat, 30 Oktober 2009 16.00 : Losers and Winners 19.00 : Irina Palm
Sabtu, 31 Oktober 2009 16.00 : Goya en “Burdeos” 19.00 : Ice Cream, I Scream
Losers and Winners
Ulrike Franke & Michael Loeken dokumenter Jerman, 2006, 92 mins
Setelah menjual pabrik ke perusahaan Cina, Ulrike Franke dan Michael Loeken mengamati pembongkaran gedung pabrik yang berlangsung selama satu setengah tahun itu dengan konflik-konflik yang terjadi antara segelintir pekerja Jerman dan 400 rekan China mereka.
Irina Palm
Sam Garbarski drama Luxembourg, 2007, 103 mins >untuk dewasa
Maggie, seorang janda berusia 50 tahun yang masih setia pada suaminya yang telah meninggal, sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya pengobatan cucunya yang sakit. Satu hari, matanya terpaku pada sebuah poster di sebuah “toko” bernama “Sexy World” dengan tulisan:”Membutuhkan hostes”...
Goya en “Burdeos”
Carlos Saura drama Spanyol, 1999, 106 mins
Pada usia 83 tahun, di tempat pembuangannya di Bordeaux, Francisco de Goya, mengingat-ingat kehidupannya untuk diceritakan pada anak perempuannya, Rosario: keagungan dan kekayaan dalam istana Raja Spanyol, persekongkolan dan konspirasi dan cintanya kepada Duchess dari Alba, dengan latar belakang dari salah satu masa yang paling bergejolak dan istimewa di Eropa, Revolusi Prancis.
ICE CREAM, I SCREAM
Yüksel Aksu komedi Turki, 2006, 100 mins
Ali, seorang penjual es krim di Mugla, sebuah kota di tepi laut Mediterania, Turki, mencoba bertahan menghadapi persaingan berat dari merek es krim internasional. Ia pun membeli motor baru berwarna kuning dan menjajakan dagangannya ke seluruh kota. Ia terus-menerus dikejar-kejar anak-anak setempat yang ingin mendapatkan es krim secara gratis.
Tubuh imajiner, tubuh konkret, tubuh yang dapat disentuh,Sebuah penayangan video dan diskusi tentang hubungan antara tari, biologi dan teknologi baru, olehThierry Giannarelli
Pemikiran klasik barat mempertentangkan tubuh imajiner, yaitu tubuh yang saya rasakan sewaktu menari, ketika misalnya saya merasakan lengan-lengan saya tertarik seperti menggambar garis panjang, atau menjadi berat dan padat bagai patung antik dari batuan bumi, atau juga ketika saya merasa ringan seperti udara, atau bergetar bagai binatang belia, dengan tubuh konkret yang bisa kita amati, yang terdiri dari otot, tengkorak, atau syaraf.
Para ilmuwan masa kini mengundang kita untuk sebaliknya, justru mempertemukan tubuh konkret dan tubuh imajiner. Thierry Giannarelli, seorang koreografer dan ahli neurobiologi, memaparkan perbedaan pandangan tentang tari dan orang hidup, dan kemudian dengan definisi tubuh yang dapat disentuh, ia menjelaskan « Dispositif d’Implication Perceptive » (Mekanisme Implikasi Perseptif), sebuah media artistik baru yang ia ciptakan.
Kamis 15 Oktober 2009 : 19.30
LIP auditorium
Pementasan tari kontemporer:Shades of Yesterday and Tomorrow (Jo’zsef Gazdag)
« Shades of Yesterday and Tomorrow » adalah salah satu kreasi saya pada tahun 2003. Pertunjukan perdana koreografi baru ini ditampilkan pada tahun yang sama di Paris dan
selanjutnya tahun 2004 di Budapest. Sejalan dengan waktu, pendekatan saya telah beralih pada kedua bayangan yang menerangi pertunjukan tari kontemporer ini dan versi yang sama sekali baru yang akan ditemukan lahir dari evolusi ini.
Le LIP/CCF de Yogyakarta sera fermé au public du 19 au 27 septembre 2009 en raison des fêtes du Lebaran. Des permanences téléphoniques seront assurées les 23-25 septembre 2009 de 10 heures à 12 heures 30.
LIP/CCF Yogyakarta libur mulai tanggal 19 sampai 27 September 2009 dalam rangka Lebaran. Bisa dihubungi lewat telepon tanggal 23-25 September 2009 dari jam 10.00 sampai 12.30.
LE MOMENT FRANCO-CiNEPHiLE : LES FiLMS DE JACQUES TATi
Le moment Franco-cinéphile
Waktunya Franco-Cinéphile
Film-film oleh Jacques Tati
Sebuah acara kolaborasi antara LIP dan Kinoki, didukung oleh Taman Budaya.
Semua film dengan teks bahasa Inggris. Gratis !
LIP auditorium : Jalan Sagan 3, Yogyakarta
Kinoki : Taman Budaya (Ruang arsip) : Lt.2 Gedung Perpustakaan, Jl.Sri Wedani no.1 Yogyakarta
Senin 7September 2009 – 15.00
LIP auditorium :Perkenalan Jacques Tati oleh Elida Tamalagi (Kinoki)
dan M Muslikh Madiyant (UGM, Jurusan Bahasa Prancis)
+ pemutaran film pendek
Jarang ada sineas yang dengan hanya sedikit film (hanya 6 film panjang) yang bisa memperlihatkan dengan sangat kuat dan relevan perubahan-perubahan besar identitas Prancis selama lebih dari 25 tahun. Jacques Tati tahu caranya menangkap berlalunya waktu, evolusi dunia, dari kehidupan di pedesaan sampai kehidupan modern dan di masa depan.
Sinema Tati berisi pernyataan kebahagiaan, kenangan tentang semangat masa kanak-kanak, kecanggungan dan kesenjangan, serta selalu tentang ketidaksukaan pada kesusahan, keseriusan dan aturan-aturan sosial yang segera membuat kita tercengang.
Rabu 9 September 2009 – 19.00
LIP auditorium : Jour de fête (1949, 77 mins)
Ketika François, seorang tukang pos, menghadiri pemutaran film dokumenter tentang « Pos di Amerika », ia segera menyadari bahwa kalau pengiriman surat di Follainville tidak bisa cepat, itu karena di sana tidak diterapkan « metode Amerika ». Tapi François akan memperbaikinya ! Dengan sepeda antiknya, ia meluncur ke desa, sambil mendahului mobil-mobil pengangkut jerami agar bisa menyampaikan surat tepat waktu.
Sabtu 12 September 2009 – 18.30
Kinoki : Les vacances de M Hulot (1953, 74 mins)
Semua orang tahu, liburan dibuat bukan untuk bersenang-senang. Semua orang tahu kecuali Monsieur Hulot, yang dengan mengendarai mobil Salmson tuanya yang bunyinya ramai meledak-ledak, dengan seenaknya datang mengacaukan ketenangan orang-orang yang sedang liburan musim panas dengan berbagai kebiasaan mereka sebagai orang kota. Monsieur Hulot menunjukkan betapa sangat menyenangkannya istana pasir di tepi pantai yang membosankan itu sampai ia pulang di bulan September.
Senin 14September 2009 – 15.00
LIP auditorium : Mon oncle (1954, 110 mins)
Monsieur dan Madame Arpel dengan Gérard, anak mereka, tinggal di sebuah villa yang sangat modern. Paman Hulot, saudara laki-laki sang ibu, tidak menyukai kenyamanan yang ditawarkan kehidupan modern. Masalah muncul ketika si keponakan mulai ingin meniru pamannya dengan menunjukkan ketidaksukaan pada barang-barang industri. Monsieur Arpel yang merasa tersaingi kemudian mencari-cari cara untuk mengusir Hulot.
Rabu 16 September 2009 – 19.00
LIP auditorium : Play time (1967, 114 mins)
Di era « Economic Airlines », orang-orang Amerika melalukan tur. Programnya : satu ibu kota per hari. Ketika tiba di Paris, mereka mendapati bahwa bandaranya sama persis seperti bandara Roma yang baru mereka tinggalkan, jalan-jalannya sama seperti di Hamburg dan anehnya, tiang-tiang lampu jalannya sama seperti di New York. Seakan-akan, dari kota ke kota pemandangannya tidak berubah.....
Sabtu 19 September 2009 – 18.30
Kinoki : Trafic (1971, 93 mins)
Sebagai desainer di firma sederhana perakitan mobil Altra, Monsieur Hulot menciptakan sebuah camping-car di antara banyak gadget lainnya untuk pameran mobil internasional di Amsterdam. Ia mengangkut prototip tersebut dengan truk yang dikawal oleh Maria dan mobil sport kuningnya. Tabrakan beruntun, ban kempes, kehabisan bensin, dan keruwetan-keruwetan lainnya dengan bea cukai akan menghambat perjalanan mereka melintasi jalan-jalan pedesaan di Belgia dan Belanda.
Sabtu 19 September 2009 – 20.30
Kinoki : Parade (1974, 85 mins)
Meskipun sebagian besar pengambilan gambar dalam format video (Tati telah memprediksi peralihan progresif penggunaan peralatan digital), Parade dibuat dengan tujuan untuk diedarkan di bioskop-bioskop meskipun yang ditampilkan dalam film ini adalah adegan nyata.
Dengan memerankan Monsieur Loyal yang memandu berlangsungnya serentetan pertunjukan dalam sebuah sirkus, Tati memberi nafas baru pada pantomim « menirukan olah raga » yang dilakukannya di music hall.
Sebuah acara kolaborasi antara LIP dan Kinoki, didukung oleh Taman Budaya.
Semua film dengan teks bahasa Inggris
Agnès Varda Tous CourtsAgnès Varda Film pendek Film Pendek Varda mengumpulkan semua film pendek karya Agnès Varda. Sebagai sutradara, penulis skenario, penulis dialog, produser dan aktris sinema Prancis, serta fotografer yang juga sineas, Agnès Varda telah membangun suatu karya yang tidak biasa seputar perenungan tentang gambar dan penyajiannya. Filmografinya juga dilalui oleh pencarian terus menerus tentang kebenaran. Sejak awal, Agnès Varda adalah orang yang benar-benar suka melakukan eksperimen sinematografis, dan film-film pendeknya , dengan koherensi yang sempurna, dapat disejajarkan dengan film-film panjangnya.
24 Agustus 2009 – 15.00 Auditorium LIP : Agnès Varda Film pendek 1 (118 mins) Cine Varda Photo Seorang perempuan yang mengumpulkan ratusan foto karena dalam masing-masing foto ada gambar Teddy Bear, goto yang menampilkan seekor kambing mati, seorang anak yang memandang kambing itu, dan seorang lelaki telanjang. Hampir 2000 foto tentang Cuba di masa Fidel yang diambil oleh Agnès Varda. Semua gambar tersebut merupakan titik awal dokumenter CINEVARDAPHOTO. Satu menit untuk satu gambar Komentar selama satu menit yang disampaikan oleh suara anonim untuk setiap foto. Baru di akhir film kita mengetahui nama-nama fotografernya, yang terkenal maupun anonim. “ Penonton akhirnya punya waktu untuk benar-benar melihat gambar di televisi dan bermain dengan komentator...” A. Bergala, Le Journal du Cinéma no. 32, April 1983
26 Agustus 2009 – 19.00 Auditorium LIP : Agnès Varda Film pendek 2 (106 mins) Film-film pendek « pariwisata » Agnès Varda berperan sebagai pemandu wisata. Ia membawa kita berjalan-jalan di sepanjang film pendek ini dari istana-istana di la Loire hingga Riviera, sampai Iran, menyusuri jejak tokoh Pomme dan Ali Darius ( dalam “L’une chante l’autre pas”). “Agnès Varda bersenang-senang sambil membuat film-filmnya, agar kita dapat bersenang-senang juga sambil menontonnya “ F. Truffaut. Film-film pendek “protes” Di akhir tahun 60-an Agnès Varda bertemu pamannya yang bernama Yanco, lelaki dari San Fransisca berusia 68 tahun yang tinggal di sebuah rumah perahu. Ia menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok black panthers, diiringi oleh improvisasi soul dari para aktivis kulit hitam, pada saat mereka masih menjadi kekhawatiran di USA. Agnés Varda memberi jawaban selama 7 menit untuk pertanyaan “apa artinya menjadi perempuan?”
29 Agustus 2009 – 18.30 Kinoki Ruang arsip (Taman Budaya, Jl Sri Wedania 1, lt 2): Agnès Varda Film pendek 3 (94 mins) Film-film pendek « orang-orang Paris » Agnès Varda mengajak kita mengunjungi Paris dan pasar de la Mouffe, sinematek Prancis, alun-alun Denfert Rocherau di daerah XIV…, melalui bermacam-macam karya fiksi atau dokumenter. Kita merasakam kemesraan pasangan legendaris Louis Aragon dan Elsa Triolet di kawasan Montparnasse di masa-masa yang gila. Essai Kunjungan yang tidak biasa ke dalam sebuah apartemen besar yang kosong. Kosong atau isi ? Mungkin ada satu keluarga yang pernah tinggal atau akan tinggal di sana. Seorang gadis mungkin akan pergi dari sana… Orang-orang tua yang mungkin tidak akan pernah pergi…Dekor bercerita sendiri tentang waktu yang berlalu.
Spécial Juliette Binoche Setelah muncul dalam film-film karya Jean-Luc Godard, Jacques Doillon atau Pascal Kané, Juliette Binoche baru benar-benar naik daun berkat film Rendez-vous karya André Téchiné tahun 1984. Sejak saat itu, ia terus menerus mendapatkan peran-peran yang menantang dan bekerja dengan sineas-sineas kondang. Ia telah mendapat penghargaan internasional lewat film English Patient karya Anthony Minghella yang memberinya piala Oscar. http://fabinoche.free.fr/
31 Agustus 2009 – 15.00 Auditorium LIP : Trois couleurs: Bleu (Krzysztof Kieslowski, 1993, 98 mins) Dalam suatu kecelakaan mobil, Julie kehilangan suaminya, seorang komposer terkenal dan anak perempuannya. Ia ingin mengubah hidupnya, kembali menjadi orang bebas yang tidak dikenal. Olivier, mantan asisten suaminya, memutuskan untuk mempublikasikan konserto yang belum terselesaikan. Dengan demikian Julie harus ke luar dari tempatnya menyendiri.
2 September 2009 – 19.00 Auditorium LIP : Le voyage du ballon rouge (Hsiao-hsien Hou, 2007, 115 mins) Simon berusia 7 tahun. Balon merah yang misterius membuntutinya di Paris. Ibunya, Suzanne, adalah pemain boneka dan sedang menyiapkan pementasan barunya. Sang ibu yang terserap secara total dalam pekerjaannya, sehari-harinya sangat sibuk sehingga memutuskan untuk mempekerjakan Song Fang, seorang mahasiswi jurusan sinema untuk membantunya mengurus Simon. Dongeng yang sangat indah (…) cukup lucu di permukaannya tetapi lambat laun jadi sangat mengharukan. Les Inrockuptibles – Jean-Marc Lalanne.
5 September 2009 - 18.30 Kinoki Ruang arsip (Taman Budaya, Jl Sri Wedania 1, lt 2): Le Chocolat (Vianne Rocher, 2000, 121 mins) Dengan membuka toko permen di dekat gereja, Vianne mengguncang ketenangan desa Lansquenet yang memasuki masa puasa sebelum paskah. Vianne yang menawarkan permen coklat yang sangat menggoda, menarik para penggemar makanan dan kebencian orang-orang yang takut bahwa coklatnya hanya menimbulkan dosa bagi orang-orang yang taat beragama. Le Comte de Reynaud, kepala desa tersebut, menentang dengan keras perempuan pembuat coklat ini.